SELAMAT DATANG DI BPP KRATON

19 Mei 2023

Sawi pagoda

 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sawi Pagoda
Sawi Pagoda.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
(tanpa takson):
(tanpa takson):
(tanpa takson):
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Subspesies:
B. r. subsp. narinosa
Nama trinomial
Brassica rapa subsp. narinosa
(L.H.Bailey) Hanelt

Sawi pagoda, yang dikenal juga dengan nama lainnya yaitu Ta Ke Chai dan Tatsoi, adalah jenis sawi yang berasal dari beberapa daerah, salah satunya adalah Tiongkok. Sawi pagoda ini memiliki bentuk dan warna yang unik, yaitu selain bentuk daunnya yang oval, sawi pagoda ini juga memiliki warna hijau pekat yang sangat mencolok, serta bagian batang dan daun yang renyah. Sawi pagoda ini tahan terhadap suhu dingin.

Penyemaian[sunting | sunting sumber]

Benih sawi pagoda.
Semaian sawi pagoda.

Benih sawi pagoda awal mulanya disemai dahulu dan langsung dikenalkan dengan sinar matahari agar tidak terjadi etiolasi. Setelah 2 hari, benih akan sprout. Lalu, sekitar hari ke 9–10, tanaman ini akan keluar daun sejatinya, atau berdaun empat. Saat sudah memiliki daun sejati, baru tanaman ini dapat diberi nutrisi tambahan. Sebelumnya, tanaman ini tidak diberikan nutrisi tambahan, karena mereka masih mendapatkan nutrisinya sendiri yang terdapat dari benihnya itu.

Nutrisi[sunting | sunting sumber]

Nutrisi yang digunakan pada tanaman sawi pagoda ini yaitu nutrisi AB mix dengan ppm 500–1400. Pemberian nutrisi harus sesuai ketentuan, karena jika nutrisi yang diberikan kurang dari 500 ppm, maka daun sawi pagoda akan pucat dan berwarna kuning. Sedangkan jika nutrisi melebihi 1400 ppm, maka rasa sawi pagoda akan terasa pahit. Pemberian nutrisi lebih baik dilakukan pada pagi hari, tepatnya pada pukul 9 pagi. Suhu dari nutrisi AB mix yang diberikan juga tidak boleh melebihi 28 °C. Karena akan menyebabkan daun sawi pagoda ini layu dan memiliki akar cokelat.

Jenis hama yang menyerang[sunting | sunting sumber]

Hama yang menyerang sawi pagoda itu bermacam-macam, yaitu:

  • Kutu aphid

Kutu aphid ini memiliki ukuran yang sangat kecil dan tubuhnya berwarna hijau. Hama ini sering kali disebarkan oleh semut. Karena para kawanan semut akan membawa telur-telur kutu aphid ini ke tanaman, dan meletakkannya di bagian bawah daun.

  • Kutu putih/kutu kebul

Kutu putih atau dikenal juga dengan kutu kebul ini biasanya muncul ketika musim kemarau tiba. Kutu putih ini akan hinggap pada tanaman-tanaman dan lama kelamaan akan menyebabkan tanaman yang dihinggapinya mati.

  • Spider mite

Spider mite ini memiliki ukuran yang kecil dan hidup di atas permukaan daun. Jika pada suatu tanaman terdapat spider mite ini, biasanya di antara daun dengan daun yang lain terdapat jaring laba-laba.

Pestisida[sunting | sunting sumber]

Pestisida yang diberikan untuk membasmi hama-hama pada sawi pagoda adalah pestisida nabati. Terdapat 2 buah bahan berbeda dalam membuat campuran pestisida yang digunakan, yaitu:

  • Bawang putih

Bawang putih yang digunakan dalam pestisida ini yaitu 2 siung dan dihaluskan, lalu ditambahkan dengan 1 liter air dan 1 sdt sabun cuci piring. Saring campuran tersebut dan semprotkan ke bagian daun sawi pagoda.

  • Daun pepaya

Daun pepaya yang digunakan dalam pestisida ini yaitu 5 lembar daun yang diiris tipis, lalu direndam di dalam air sebanyak 1 liter selama 3 jam, serta ditambahkan dengan 1 sdt sabun cuci piring. Saring campuran tersebut dan semprotkan ke bagian daun sawi pagoda.

Fungsi dari sabun cuci piring ini yaitu agar pestisida menempel ke daun sawi pagoda. Penyemprotan pestisida pada tanaman sawi pagoda ini dilakukan secara berulang yaitu 3 hari sekali, pada sore hari.

Kandungan dan manfaat[sunting | sunting sumber]

Sawi pagoda ini tentu saja memiliki kandungan yang sangat berperan baik untuk kesehatan tubuh manusia. Berikut ini adalah beberapa kandungan dan manfaat dari sawi pagoda:

  • Vitamin A

Vitamin A pada tumbuhan sawi pagoda ini tentu berperan sangat baik bagi kesehatan mata manusia.

  • Vitamin E

Vitamin E berfungsi untuk menjaga kesehatan kulit, dan menjaga kulit agar tidak kering.

  • Vitamin K

Vitamin K berfungsi untuk membantu dalam proses pembekuan darah jika adanya luka pada tubuh.

  • Asam folat
Foto hasil panen Sawi Pagoda ini berumur 30 HST (Hari Setelah Tanam) atau 40 hari HSS (Hari Setelah Semai) menggunakan sistem Hidroponik DFT (Deep Flow Technique) di Purwokerto.
Foto hasil panen sawi pagoda ini berumur 30 HST (Hari Setelah Tanam) atau 40 hari HSS (Hari Setelah Semai) menggunakan sistem Hidroponik DFT (Deep Flow Technique) di Purwokerto.

Asam folat berfungsi untuk perkembangan janin, agar janin tumbuh dengan baik pada ibu hamil. Serta membantu pembentukan sel-sel darah merah dan sumsum tulang.

  • Asam glukosinolat

Asam glukosinolat berfungsi untuk mencegah penyakit kanker yang menyerang tubuh.

Pengolahan[sunting | sunting sumber]

Sawi pagoda dapat dijadikan masakan dengan cara ditumis. Ataupun bisa dijadikan jus untuk pengobatan penyakit.

Sumber Referensi[sunting | sunting sumber]

[1][2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wibowo, Seno dan Maya (Eds.). 2014. Panduan Lengkap Budi Daya Ikan dan Sayuran dengan Sistem Akuaponik. Yogyakarta: Lily Publisher. ISBN 978-979-29-4223-1
  2. ^ Nixon, M.Topan dkk (Eds.). 2014. Bertanam Sayuran Hidroponik Ala Paktani Hydrofarm. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka. ISBN 979-006-517-5

Bawang merah

 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bawang merah
Bawang Merah atau Brambang.jpg
Bawang merah di pasar
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
A.cepa
Varietas:
A.cepa var. aggregatum
Nama binomial
Allium cepa var. aggregatum

Bawang merah (Allium cepa L. var. aggregatum[1]) adalah salah satu bumbu masak utama dunia yang berasal dari IranPakistan, dan pegunungan-pegunungan di sebelah utaranya, tetapi kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, baik sub-tropis maupun tropis. Wujudnya berupa umbi yang dapat dimakan mentah, untuk bumbu masak, acar, obat tradisional, kulit umbinya dapat dijadikan zat pewarna dan daunnya dapat pula digunakan untuk campuran sayur.[2] Tanaman penghasilnya disebut dengan nama sama.

Bawang merah saat ini dianggap sebagai sebuah varietas dari spesies Allium cepa, spesies yang memuat sejumlah besar varietas bawang yang dikenal dengan nama kolektif bawang bombai.

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Seluruh bagian tanaman bawang merah dari akar, umbi, daun, batang, dan bunga

Bunga bawang merah merupakan bunga majemuk berbentuk tandan yang bertangkai dengan 50-200 kuntum bunga. Pada ujung dan pangkal tangkai mengecil dan di bagian tengah menggembung, bentuknya seperti pipa yang berlubang di dalamnya. Tangkai tandan bunga ini sangat panjang, lebih tinggi dari daunnya sendiri dan mencapai 30–50 cm. Bunga bawang merah termasuk bunga sempurna yang tiap bunga terdapat benang sari dan kepala putik. Bakal buah sebenarnya terbentuk dari 3 daun buah yang disebut carpel, yang membentuk tiga buah ruang dan dalam tiap ruang tersebut terdapat 2 calon biji.Buah berbentuk bulat dengan ujung tumpul. Bentuk biji agak pipih. Biji bawang merah dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif.

Bawang merah mengandung vitamin Ckaliumserat, dan asam folat. Selain itu, bawang merah juga mengandung kalsium dan zat besi. Bawang merah juga mengandung zat pengatur tumbuh alami berupa hormon auksin dan giberelin. Kegunaan lain bawang merah adalah sebagai obat tradisional, bawang merah dikenal sebagai obat karena mengandung efek antiseptik dan senyawa alliin. Senyawa alliin oleh enzim alliinase selanjutnya diubah menjadi asam piruvat, amonia, dan alliisin sebagai anti mikoba yang bersifat bakterisida.

Senyawa sin-propanatial-S-oksida (syn-propanethial-S-oxide) yang terbentuk akibat jaringan bawang merah diiris menyebabkan mata manusia mengeluarkan air mata[3][4].Pembentukannya terpicu oleh dilepaskannya enzim lachrymatory-factor synthase ketika jaringan tubuh tanaman dilukai. Enzim ini akan mengubah asam-asam amino sulfoksida (mengandung oksida belerang) menjadi asam sulfenat yang tidak stabil. Salah satu senyawa yang terbentuk dari asam sulfenat adalah sin-propanatial-S-oksida, yang kemudian menyebar ke udara. Kelenjar air mata akan terangsang oleh senyawa ini dan memicu keluarnya air mata.

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Bawang goreng adalah bawang merah yang diiris tipis dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak. Pada umumnya, masakan Indonesia berupa sotosup juga bubur ayam menggunakan bawang goreng sebagai penyedap sewaktu dihidangkan. Selain diolah menjadi bawang goreng, bawang merah dapat juga dapat bermanfaat sebagai obat yaitu untuk mengobati maag, masuk angin, menurunkan kadar gula dalam darah, menurunkan kolesterol, sebagai obat kencing manis (diabetes melitus), memperlancar pernafasan dan memperlancar aliran darah karena bawang merah dapat menghambat penimbunan trombosit dan meningkatkan aktivitas fibrinotik.[5]

BUDIDAYA TERONG

TERONG

CARA MENANAM TERONG YANG BAIK

Tanaman terong tumbuh hampir di setiap jenis tanah dengan kisaran pH 5-6. Tanaman ini memerlukan air yang cukup untuk menopang pertumbuhannya. Ketinggian tempat yang dapat ditanami tanaman terong antara 1-1200 mdpl dengan suhu optimal 18-25°C.

Terung

 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

(Dialihkan dari Terong)
Terung
Aubergine.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Kelas:
Subkelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
S. melongena
Nama binomial
Solanum melongena

Terung atau terong (Solanum melongena) adalah tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-sayuran. Asalnya adalah India dan Sri Lanka.[1][2] Terung berkerabat dekat dengan kentang dan leunca, dan agak jauh dari tomat.

Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini tumbuh hingga 40–150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar. Ukurannya 10–20 cm (4-8 inci) panjangnya dan 5–10 cm (2-4 inci) lebarnya. Jenis-jenis setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga setinggi 225 cm (7 kaki), dengan daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan 15 cm (6 inci) panjangnya. Batangnya biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis yang ditanam.

Cara menanam tanaman terung adalah disemai, setelah tumbuh 4 daun sejati kemudian ditanam (dijadikan bibit terlebih dahulu). Panen dimulai pada 70-80 hari setelah semai selanjutnya setiap 5 hari.

Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri memiliki banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu dapat dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung nikotin, sejenis alkaloid yang banyak dikandung tembakau.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Terung ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Asal usul budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama ungu, hijau, dan putih. Catatan tertulis yang pertama tentang terung dijumpai dalam Qí mín yào shù, sebuah karya pertanian Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun 544.[3] Banyaknya nama bahasa Arab dan Afrika Utara untuk terong serta kurangnya nama Yunani dan Romawi menunjukkan bahwa pohon ini dibawa masuk ke dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah oleh bangsa Arab pada awal Abad Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena, berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.

Karena terung merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap beracun, sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah terung dapat dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang, sebagian orang yang lain, memakan buah terung (serupa dengan memakan buah terkait seperti tomatkentang, dan merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit dan mengiritasi perut serta mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber, khususnya dari kalangan kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait dapat mengakibatkan atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi oleh mereka yang peka terhadapnya.[4]

Tomat

 Tomat atau rangam (Solanum lycopersicum) adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat merupakan tumbuhan siklus hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tumbuhan ini memiliki buah berwarna hijau, kuning, dan merah yang biasa dipakai sebagai sayur dalam masakan atau dimakan secara langsung tanpa diproses. Tomat memiliki batang dan daun yang tidak dapat dikonsumsi karena masih sekeluarga dengan kentang dan terung yang mengadung alkaloid.

Cara menanam tanaman tomat adalah disemai lebih dahulu, setelah tumbuh 4 daun sejati kemudian ditanam (dijadikan bibit terlebih dahulu). Panen dimulai usia 9 minggu setelah tanam selanjutnya setiap 5 hari.

Kata "tomat" berasal dari kata dalam bahasa Nahuatltomatl (diucapkan: /tÉ”.matɬ/). Salah satu produk buatan hasil olahan tomat yang digemari, yaitu saus tomat. Hampir di berbagai negara memproduksi saus tomat. Saus tomat sendiri banyak dimanfaatkan untuk bumbu tambahan dalam mengolah berbagai masakan. Saus tomat juga dapat disajikan langsung bersama burgersandwich, dan banyak lagi yang lainnya. Selain untuk tambahan dalam mengolah makanan, tomat juga dapat diolah menjadi jus tomat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut tulisan karangan Andrew F. Smith "The Tomato in America", tomat kemungkinan berasal dari daratan tinggi pantai barat Amerika Selatan. Setelah Spanyol menguasai Amerika Selatan, mereka menyebarkan tanaman tomat ke koloni-koloni mereka di Karibia. Spanyol juga kemudian membawa tomat ke Filipina, yang menjadi titik awal penyebaran ke daerah lainnya di seluruh benua AsiaSpanyol juga membawa tomat ke Eropa. Tanaman tomat tumbuh dengan mudah di wilayah beriklim Mediterania.

Kandungan[sunting | sunting sumber]

Tomat mengandung antioksidan berupa likopen yang dapat membantu memerangi efek radikal bebas penyebab kanker. Tomat juga memiliki kandungan antioksidan lain yakni polifenol, naringenin, dan chlorogenic acid. Di samping itu, ternyata buah tomat rendah kalori dan lemak, tetapi kaya akan karotenoid, lutein, gula, vitamin A, vitamin C, folat, dan kalium[1]

Macam[sunting | sunting sumber]

Terdapat ratusan kultivar tomat yang dibudidayakan dan diperdagangkan. Pengelompokan hampir selalu didasarkan pada penampilan atau kegunaan buahnya.

Berdasarkan penampilan[sunting | sunting sumber]

Tomat muda yang masih hijau

Terdapat buah tomat dengan kisaran warna dari hijau ketika masak, kuning, jingga, merah, ungu (hitam), serta belang-belang.

Dari ukuran dan bentuk,[2] tomat dikelompokkan sebagai berikut:

  • granola yang bentuknya bulat dengan pangkal buah mendatar dan mencakup yang biasanya dikenal sebagai tomat buah (karena dapat dimakan langsung),
  • gondol yang biasa dibuat saus dengan bentuk lonjong oval (biasanya yang ditanam di Indonesia adalah kultivar 'Gondol Hijau' dan 'Gondol Putih', dan keturunan dari kultivar impor 'Roma') dan termasuk pula tomat buah,
  • sayur adalah tomat dengan buah biasanya padat dan dipakai untuk diolah dalam masakan
  • ceri (tomat ranti) yang berukuran kecil dan tersusun berangkai pada tangkai buah yang panjang.

Berdasarkan kegunaan[sunting | sunting sumber]

Orang mengenal tomat buah, tomat sayur, serta tomat lalapan. Berdasarkan hal ini, fungsi tomat merupakan klasifikasi dari buah maupun sayuran, walaupun struktur tomat adalah struktur buah.

Perkembangan pengetahuan, sekarang tomat tidak hanya sebagai pelengkap untuk makanan melainkan juga sudah dikenal luas untuk kecantikan. Manfaat tomat untuk kecantikan antara lain adalah untuk mengecilkan pori-pori dan mencerahkan kulit karena tomat kaya dengan kandungan vitamin C.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "USDA Nutritional Database".
  2. ^ Anonim. 2005. Buah segala musim. 216 resep makanan & minuman sehat berbahan buah. Gramedia Pustaka Utama.
  3. ^ "8 Manfaat Jus Tomat dan Wortel Plus Risikonya yang Patut Anda Ketahui"HerbalismeID. 2022-12-11. Diakses tanggal 2022-12-20.

CABAI

 Cabai adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana pemanfaatannya. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa untuk makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok" kesepuluh (alih-alih kesembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai.

Manfaat cabai[sunting | sunting sumber]

Cabai merah besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia.[1]

Cabai (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi[2] dan memiliki beberapa manfaat kesehatan yang salah satunya adalah zat capsaicin yang berfungsi dalam mengendalikan penyakit kanker. Selain itu, terdapat kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada cabai dapat memenuhi kebutuhan harian setiap orang, tetapi harus dikonsumsi secukupnya untuk menghindari nyeri lambung.

Cara penanaman[sunting | sunting sumber]

Kebun cabai di Bedugul, Bali

Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam pada dataran rendah ataupun dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak asiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar.

Tanaman cabai cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang, serta tidak tergenang air; pH tanah yang ideal sekitar 5—6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret—April). Untuk memperoleh harga cabai yang tinggi, bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun kemungkinan memiliki risiko kegagalan. Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit. Buah cabai yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya. Untuk areal satu hektare dibutuhkan sekitar dua sampai tiga kg buah cabai (300—500 gr biji).

Permasalahan produksi[sunting | sunting sumber]

Salah satu kendala utama dalam sistem produksi cabai di Indonesia adalah dengan adanya serangan lalat buah pada buah cabai. Hama ini sering menyebabkan gagal panen.[3] Laporan Departemen Pertanian Republik Indonesia tahun 2006 menunjukkan bahwa kerusakan pada tanaman cabai di Indonesia akibat hama dapat mencapai 35%. Buah cabai yang terserang sering tampak sehat dan utuh dari luar tetapi bila dilihat di dalamnya membusuk dan mengandung larva lalat. Penyebabnya utamanya adalah lalat buah Bactrocera carambolae. Karena gejala awalnya yang tidak tampak jelas, sementara hama ini sebarannya masih terbatas di Indonesia, lalat buah menjadi hama karantina yang ditakuti sehingga dapat menjadi penghambat ekspor buah-buahan maupun pada produksi cabai.

Selain lalat buah, kutu daun Myzus persicae (Hemiptera: Aphididae) merupakan salah satu hama penting pada budi daya cabai, karena dapat menyebabkan kerusakan hingga 80%. Upaya pengendaliannya dapat menggunakan insektisida nabati ekstrak Tephrosia vogelii dan Alpinia galanga.[4]

Upaya penanggulangan hama[sunting | sunting sumber]

Sebenarnya sudah dilakukan upaya untuk mengendalikan serangan lalat buah ini, di antaranya adalah pembrongsongan yang dapat mencegah serangan lalat buah. Akan tetapi, cara ini tidak praktis dan efektif untuk dilakukan pada tanaman cabai dalam areal yang luas. Sementara penggunaan insektisida selain dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan juga sangat berbahaya bagi konsumen. Oleh karena itu, diperlukan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan cocok untuk diterapkan di areal luas seperti di lahan sentral produksi cabai. Upaya pengendalian lalat buah pada tanaman cabai, khususnya cabai merah, adalah penggunaan insektisida sintetik karena dianggap praktis, mudah didapat, dan menunjukkan efek yang cepat. Selain insektisida sintetik, insektisida nabati seperti kacang babi Tephrosia vogelii, jeruk purut Citrus hystrix, serai wangi Cymbopogon citratus efektif sebagai penolak lalat buah.[5]

Adiyoga dan Soetiarso (1999) melaporkan 80% petani sayuran menggunakan pestisida untuk mengendalikan penyakit tanaman. Akan tetapi, penggunaan insektisida tersebut sering meninggalkan residu yang berbahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia (Duriat 1996). Di samping harga insektisida sintetik yang mahal, dampak dari adanya residu insektisida sintetik dalam bidang ekonomi adalah penolakan ekspor oleh banyak negara, tujuan ekspor atas produk-produk cabai yang mengandung residu fungisida dan pestisida lain (Caswell & Modjusca 1996). Di antara insektisida yang banyak digunakan dalam pengendalian serangan lalat buah pada cabai adalah Diazinon, Dursban, Supracide, Tamaron dengan konsentrasi 3—5%, dan Agrothion (Pracaya 1991).

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Cabai adalah buah pokok di Bhutan. Orang Bhutan menyebut tanaman ini ema (dalam Dzongkha) atau solo (dalam Sharchop). Ema datshi seluruhnya terbuat dari cabai yang dicampur dengan keju lokal.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sayuti A. 2006. Geografi budaya dalam wilayah pembangunan daerah Sumatra Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  2. ^ Kardinan. 2002. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya.
  3. ^ Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
  4. ^ Toksisitas Ekstrak Tephrosia vogelii dan Alpinia galanga terhadap Myzus persicae pada Tanaman Cabai
  5. ^ Evaluasi Lima Ekstrak Tanaman sebagai Penolak Lalat Buah Bactrocera sp. (Diptera: Tephritidae) pada Cabai Merah.